ads

Welcome to My Blog

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Cerpen Alif Fanny Wulandari

“Jaga diri kamu baik-baik yach,, aku pasti akan merindukan mu Tina.” Reyhan mengecup pipi Tina dengan lembut. Alangkah bahagianya jika Puja pun diperlakukan sama seperti Tina. Di beri sebuah kecupan tanda sayang seorang sahabat, yang akan pindah ke kota lain, dan pastinya akan lama lagi untuk bertemu.
“tentu Rey, aku dan Puja juga akan merindukan mu.” Balas Tina sambil menyenggol pundak Puja yang masih saja diam tanpa kata. “ i, iya Rey.” Dengan gugup Puja pun akhirnya angkat bicara, dengan senyum manis di wajahnya. Padahal, ia tahu itu sama saja ia belajar menjadi seorang yang munafik dengan perasaan yang sebenarnya ia rasakan. Reyhan pun berlalu pergi, dan lagi-lagi hanya pada Tina ia melambaikan tangan tanda berpisah, tanpa memperdulikan Puja yang juga sahabatnya. Mobil yang dikendarai Reyhan bersama keluarganya berlalu pergi meninggalkan Tina dan Puja.
“kapan ya kita akan bertemu lagi dengan Reyhan ? aku nggak sabar menunggu waktu di mana kita sudah dewasa nanti dan pastinya bertemu dengan banyak perubahan yang terjadi pada kita.” Gambaran wajah bahagia Tina tidak bisa dilukiskan. Namun dengan Puja, hmmm sungguh dapat digambarkan bagaimana wajah itu menanggapi celoteh Tina, sahabatnya. Akan tetapi, Puja selalu tersenyum untuk kesekian kali ia merasa hatinya sedikit tersakiti. Hanya untuk menyembunyikan luka hati itu. Sekalipun pada sahabatnya sendiri. Apa Tina tahu akan perasaan Puja, sahabatnya ? apa dia juga akan merasakan hal yang sama jika setiap bertemu Reyhan hanya Puja yang diutamakan ?

Setiap hari, Reyhan selalu mengirim pesan melalui e-mail kepada Tina. Tapi Tina tidak pernah membalas pesan itu satu pun. Melainkan Puja lah yang selalu membalas pesan itu atas nama sahabatnya Tina. Tina pun mengetahui hal ini, karna dia lah yang menyuruh Puja untuk meladeni semua pesan dari Reyhan.
“balas saja pesan e-amail nya, aku males untuk membalasnya, buat saja dia penasaran padaku. Ok Puja ?” itulah alasan kalimat panjang Tina untuk masalah menanggapi e-mail Reyhan. Mau tidak mau Puja pun mengiyakan, dan Puja selalu aktif untuk membalas semua pesan Reyhan. Dari semua pesan-pesan manisnya pada Tina, ucapan-ucapan sayangnya pada Tina. Namun tak menyurutkan Puja untuk tidak setia kawan membalas semua pesan itu, walau dia tahu itu sama saja menyakiti hatinya setiap kali membaca balasan-balasan Reyhan untuk Tina. Setiap hari tak pernah alfa pesan dari Reyhan, setiap hari itu pula Puja selalu ada untuk membalas pesannya, lagi-lagi atas nama Tina bukan dirinya. Puja pun harus lebih cepat berfikir, apabila Reyhan mengetahui semua balasan pesannya ternyata dari dirinya, bukan Tina, pastilah dia akan marah. Dan pastinya Reyhan akan marah pada Puja, bahwa Puja telah membohonginya. Ini Puja lakukan demi Tina dan demi perasaan Puja yang selalu dia sembunyikan dari Reyhan dan Tina, agar semua terlihat baik-baik saja. Walau ini begitu sakit, karna harus berpura-pura jadi Tina yang dicintai Reyhan. Selama bertahun-tahun, 15 tahun lamanya kebohongan itu masih jadi rahasia antara Tina dan Puja, tanpa Reyhan mengetahui.
***

Sampai akhirnya Reyhan kembali ke kota yang dulu pernah jadi saksi perpisahan itu, kembali untuk bertemu seseorang yang selalu jadi permaisuri mimpinya, yang selalu menemaninya walau hanya lewat e-mail, dia lah Tina. Wanita yang ia kagumi sejak mereka berumur 10 tahun. Mungkin hingga sekarang perasaan Reyhan takkan berubah untuk Tina. Kalau untuk Puja, bagaimana ? pastilah kamu tahu dari awal perhatian Reyhan pada siapa ? Tina. Ya, selalu saja untuk Tina.
“kamu berubah Tina, kamu semakin Cantik.” Puji Reyhan pada Tina, sambil mengecup punggung tangan Tina dengan mesra, sempat sebelumnya ia melewati tatapan rindu dari seorang Puja, sahabat kecilnya juga. Padahal ia tahu, di situ bukan hanya Tina, melainkan ada Puja. Tapi pandangan Reyhan selalu tertuju pada Tina, tanpa sedikit pun menoleh kepada Puja. Sungguh miris rasanya hati Puja, melihat adegan itu di depan matanya.
“terimakasih Rey, kamu juga makin tampan.” Balas puji Tina sambil tersenyum simpul.
“hay Rey,” Puja menghampiri Reyhan dan menyapa Reyhan, yang sedari tadi asyik sibuk menyapa Tina.
“hay juga Puja, kau juga kelihatan lebih cantik.” Senyum itu pun akhirnya muncul, dibalik bibirnya yang kecil dan diberi sedikit lesung pipit untuk menambah manisnya senyum itu. Tak tahu apa yang ada di fikiran Puja tentang sebaris senyum Reyhan. Berbagi untuknya walau hanya sedikit dan terlebih banyak teruntuk Tina, atau lebih parahnya lagi hanya sebatas senyum memuji tanpa ada perasaan lain untuk dirinya.
“thanks Rey, bagaimana kabar kamu ? di sana enak sama seperti di sini ?” tanya Puja, untuk sedikit mencairkan rasa sedih di hatinya.
“baik. Kamu juga bagaimana Puja ? hmmm, di sana susah sekali mencari makanan kesukaan ku. Sampai-sampai untuk meringankan kerinduan ku pada makanan kesukaan ku itu, ku bayangkan saja wajah Tina yang cantik ini.” Menyentuh wajah Tina dengan manja, tanda ia tak sedang ngegombal atau merayu Tina. Tina pun tersenyum malu. Lalu bagaimana Puja menanggapi jawaban pertanyaannya pada Reyhan ?
“owh,, syukurlah kalau begitu.” Singkat, padat, dan jelas bahwa bukan hanya ini yang ingin Puja sampaikan. Tapi waktu dan keadaan yang memaksa Puja hanya menjawab dengan kalimat singkat ini. Itu sudah cukup mewakili perasaannya, tanpa Tina apalagi Reyhan mengetahuinya.
***


Semenjak Reyhan kembali ke kota ini, semua jadi sedikit berubah. Tina jadi sering bersama Reyhan, ketimbang bersamanya. Namun walau begitu, mereka pernah sempat jalan bareng untuk sedikit mengenang masa kecil mereka dengan berjalan-jalan ke sebuah tempat tongkrong anak remaja. Bukan mall, apalagi tempat-tempat hiburan malam yang mereka datangi. Namun tempat yang cukup indah dengan kursi-kursi taman dan tak jauh dari tempat itu ada sebuah danau kecil yang cukup indah saat air mancurnya keluar dari permukaan danau.
Reyhan mengadakan janji pada dua sahabatnya itu, untuk ke tempat yang sudah mereka setujui. Sesampainya di sana, Reyhan sudah nggak sabar untuk bertemu mereka, terlebih pada Tina pujaan hatinya. Di sebrang jalan Tina dan Puja pun tiba dari kejauhan taman itu. Ketika mereka akan menyebrang, ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir menabrak mereka.
“Puja . . . . . !!” teriakan panik itu sangat jelas dari Reyhan, yang berada di seberang jalan Tina dan Puja akan menyebrang.
“kamu nggak pa-pa Puja ?” tanya Reyhan Panik, saat mereka tiba di sisi trotoar. Baru kali ini Reyhan tampak panik dan khawatir pada Puja, yang sebelumnya Tina lah yang jadi pusat perhatian dia.
“aku nggak pa-pa kok.” Jawab Puja yang sedikit panik juga. Dan disaat itu pula Tina agak cemburu pada sikap Reyhan yang tumben perhatian pada Puja ketimbang padanya. Seketika saja ada keheningan yang timbul dari mereka bertiga, Reyhan yang duduk di antara Tina dan Puja pun tak lagi mengeluarkan kata-kata. Semua diam membisu. Lima menit berlalu dengan keheningan, akhirnya Reyhan angkat bicara untuk sekedar meringankan suasana yang dingin seperti ini.
“Oya, kamu mau makan apa Tina ?” tanya Reyhan pada Tina.
“hmmm, terserah kamu aja deh Rey.” Jawab Tina pasrah. Masih dengan logat manjanya.
“Oya, mumpum aku lagi ada di kota ini, aku mau makan makanan kesukaan aku. Kamu tau kan makanan kesukaan aku, Tina ?” Reyhan bertanya pada Tina, dan itu membuat Tina kaget. Karna dia tak tau makanan kesukaan Reyhan.
“hmmm,, apa ya,,” Tina sambil pura-pura mikir untuk menjawab pertanyaan Reyhan. Padahal ia tak tahu harus menebak makanan apa yang disukai Reyhan.
“martabak kol.” Jawaban itu mengagetkan Tina, terutama Reyhan.
“owh iya, martabak kol. Itu kan makanan kesukaaan kamu.” Akhirnya Tina ikutan menjawab untuk mengalihkan sedikit kebohongannya yang memang benar Tina baru tahu akan makanan kesukaan Reyhan. Reyhan langsung berpaling ke arah wajah Puja. Puja yang ditatap seperti itu, sedikit agak gugup. Karna itu baru pertama kali Reyhan menatapnya seperti itu.
“hhaah . . . kenapa kamu menatapku seperti itu ? mungkin Tina lupa tentang makanan kesukaan mu. Ya kamu tahu sendiri lah, saking banyaknya pesan e-mail yang kamu kirim ke Tina. Sampai Tina lupa akan semua kata-kata yang kamu sampaikan kepadanya. Iya kan Tina ?” Puja menyenggol pundak Tina untuk menjauhkan fikiran jelek Reyhan tentang kebohongan yang mereka rahasiakan hingga sekarang.
“i,, iya Rey. Aku lupa. Maaf ya,,” Tina tampak gugup dan tampak merasa bersalah telah membohongi Reyhan sejak mereka masih kecil, apalagi untuk urusan e-mail. Oh tidak, jangan sampai Reyhan mengetahui kebohongan ini. Ucap Tina dalam hati. Semua pun kembali normal. Nggak lagi ada yang diam.
“iya, nggak pa-pa kok.” Ucap Reyhan malah tampak kecewa pada Tina. Tina yang ia harapkan lebih tahu semua tentang dirinya, malah tidak bisa menjaga harapan Reyhan. Malah Puja, ya Puja. Yang setahu Reyhan dirinya tak pernah diceritakan tentang semua kepribadian dirinya, malah Puja lah yang mengetahui semua tentangnya. Dari tentang makanan kesukaannya, buku-buku tentang cinta, yang sama halnya Puja menyukai buku-buku itu, sampai Puja memiliki buku yang sama dengan Reyhan, tanpa Reyhan tahu. Dan masih banyak lagi kesamaan Puja dengan dirinya.
Terlalu jauh berbeda dengan sosok Tina, wanita yang ia kagumi dari mereka kecil. Tina sama sekali tidak mengetahui hal-hal kecil tentang Reyhan. Apa Tina juga tidak mengetahui bagaimana perasaan ku padanya ? ucap Reyhan dalam hati.
***

Panjang cerita, Reyhan akan bertunangan dengan Tina. Otomatis itu membuat hati Puja sangat kecewa dan merasa sedih. Baginya, itu akan sama saja cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Perasaan yang dari dulu ada sebelum Reyhan akan meninggalkan kota ini, sampai akhirnya ia kembali lagi dengan perasaan yang masih tetap sama, perasaan yang tetap untuk Tina. Hingga saat ini perasaan itu pun akan terus tumbuh, semakin hari semakin menjadi-jadi perasaanya pada Reyhan. Dan Reyhan pun sama, namun tidak dengannya. Melainkan dengan Tina.
Namun suatu ketika, Reyhan pernah menemukan Puja sedang membaca-baca e-mail darinya.
“Puja ?” tanya heran Reyhan, dan ada sedikit tanda kecewa yang tertangkap pada wajah tampannya.
“eh,, ak, aku,,” tak sempat Puja meneruskan kalimatnya, wajah gugupnya sudah terbaca oleh Reyhan. Reyhan menangkap sedikit kebohongan tentang Puja dan e-mail itu. Akankah semua akan terbongkar pada Reyhan ? orang yang selama ini jadi tokoh utama untuk kebohongan yang Tina dan Puja sembunyikan.
“kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa lagi Puja. Aku sudah tahu semua. Aku sudah tahu semua. Sekarang aku mengerti.” Wajah kecewa yang ditampakkan Reyhan tak dapat lagi dipungkiri Puja. Puja diam terpaku di depan layar komputernya. Tak terasa, air mata itu pun akhirnya mewakili perasaannya saat ini, Reyhan pun meninggalkan Puja dengan tatapan yang amat kecewa padanya. Di sudut mata Reyhan pun, tergambar jelas air mata itu. Tanpa sempat Puja menjelaskan satu patah kata pun padanya.
“ya Allah,, kuatkan hati hambamu ini. Jangan kau tinggalkan aku dalam rapuhnya jiwa dan hati ku. Aku tak sanggup bila cinta ku tak terbalas oleh sesorang yang sudah menempati hati ini sejak kecil. Buat dia mengerti ya Allah, buat dia tuk tidak jauh dari ku dan dari hati ku. Aku sudah berkorban apa pun demi sahabatku Tina. Apa aku harus berkorban lagi untuknya, untuk melepas Reyhan untuk Tina ? untuk merelakan hati ini sakit untuk selamanya ? apa aku juga harus berpura-pura bahagia dengan orang lain, sedangkan kau tahu hati ini untuk siapa. Jawab aku ya Allah.” Puja menangis, Puja tak sanggup lagi tuk bisa membendung perasaan ini, ia tumpahkan pada cara menghadap-NYA.
***

Hari itu pun tiba, dimana hari pertunangan Reyhan dengan Tina, dan disusul Puja dengan lelaki pilihan orang tuanya. Cincin bertahtahkan berlian pun, sudah melingkar di jari manis Tina, begitu pun dengan Puja. Itu pertanda bahwa mereka telah resmi bertunangan dengan pasangan masing-masing. Tina teramat bahagia ketika itu. Namun tidak untuk Puja. Sorot tajam itu telah meluluhkan Puja, Puja tak bisa memungkiri bahwa yang mempunyai mata itu lah, pemilik sah hatinya. Bukan orang yang telah melingkarkan cincin itu kepadanya. Wajah sedih dan rasa harapnya, mengganggu pandangan Puja pada lelaki itu. Lelaki yang telah tahu akan hatinya, lelaki yang telah tahu akan perasaannya selama ini. Ia menatap Puja dengan penuh perasaan, mungkin rasa harapnya melebihi rasa harapnya pada lelaki itu.
Di mana mata itu sedang menatap Puja dengan penuh perasaan, di sisi lain pun ada dua pasang mata yang menangkap tatapan mata itu dengan penuh tanda tanya.
“hai Puj,” Rendi meleburkan lamunan Puja yang terus terpaku pada sorot mata itu.
“hah,, ehh, iya.” Puja gugup. “kenapa Ren ?”
“kamu kenapa ? kamu terlihat pucat. Kamu sakit ?” Rendi khawatir akan keadaan Puja saat ini. Rendi sedikit menangkap hal-hal yang mengganjal hatinya, tentang Puja kekasihnya dengan Reyhan sahabatnya.
“ehh,, iya. Aku kurang enak badan. Aku pergi ke kamar ya ?” Puja langsung berlalu menuju kamar. Tatapan Rendi tak lepas dari pandangan Puja, hingga akhirnya Puja tak terlihat lagi di balik pintu kamarnya. Di penjuru lain, Tina pun menanyakan hal yang sama pada Reyhan.
“kamu kenapa Rey ? dari tadi aku perhatiin kamu lagi ngeliatin seseorang. Siapa sih ?” tanya penasaran Tina, yang melihat Reyhan akhir-akhir ini aneh. Terlebih sejak Reyhan mengetahui semua hal tentang Puja dan tentang e-mail itu kepada Tina.
“nggak kok Tin, kamu tenang aja. Oya, aku tinggal ke belakang sebentar ya,” Reyhan pergi meninggalkan Tina di ruang tamu bersama keluarga-keluarga yang telah hadir di pesta pertunangan mereka.
***

Di kamar Puja.
“kamu benar, nggak pa-pa ?” tanya Rendi lagi, karna cemas.
“iyah,” jawab Puja singkat.
“ya udah, aku mau nemuin para tamu di bawah. Kamu istirahat ya. Aku sayang kamu Puja.” Kecup manis di kening Puja, mengakhiri kecemasan Rendi. Rendi pun berlalu pergi.
“Puja, kamu istirahat ya.” Pesan Rendy lagi, yang berdiri di balik pintu kamarnya.
“iya Ren, sudah sana. Katanya mau ke bawah.” Jawab Puja.
“Puja,” panggilan manja Rendy.
“iya Ren,”
“Puja,” panggil suara yang tak asing lagi. Puja pun kembali menoleh ke arah pintu.
“iya, Re . . . “ belum sempat ia meneruskan kalimatnya, sosok lelaki yang tak asing lagi muncul di ambang pintu. Kalimatnya pun terputus.
“ada apa kamu kemari Rey ?”
“kenapa kamu lakukan semua ini sama aku Puja ?” Reyhan menghampiri Puja yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya.
“kenapa Puja ? Jawab !” bentak Reyhan. “a,, a,, aku . . “ Puja gugup menghadapi sikap Reyhan kali ini. Langkah lelaki itu semakin mendekat pada Puja. Semakin dan semakin dekat wajahnya.
“ternyata orang yang selama ini aku sayangi adalah wanita yang membalas semua e-mail ku, wanita yang mengetahui semua tentang aku, dari makanan kesukaan aku, dari buku-buku tentang cinta, dan segalanya. Itu kamu Puja ! bukan Tina. Dan aku baru menyadari itu. Kenapa kamu tega membohongi diri kamu sendiri ? membohongi perasaan kamu ke aku ? kenapa Puja ?! jawab ! kenapa kamu nggak jawab semuanya ? kamu takut ? kamu takut kalau sahabat mu Tina mengetahui semua hal ini ? mengetahui perasaan kamu yang selama ini kamu sembunyiin ke Tina ? iyah ?”
“a,, aa,,, aku . . .“ Puja benar-benar tak habis fikir, Reyhan akan bicara itu semua padanya.
“sudahlah Puja, jangan terus kau selalu berkorban tanpa memperdulikan perasaan mu sendiri. Ikuti kata hati mu, jangan terus kamu bodohi aku dan Tina tentang perasaan kamu yang sebenarnya. Itu sama saja kau telah menyakiti semua orang yang menyayangimu.” Sergahan Reyhan nggak bisa membuat Puja menghindar. Semua perkataan Reyhan benar. Nggak seterusnya Puja selalu berkorban, dia juga ingin bahagia dengan cinta yang utuh. Bukan dengan cinta yang dipaksakan bahagia. Puja pun menumpahkan air matanya di pelukan Reyhan, di pelukan seorang yang sangat ia sayangi melebihi rasa sayang seorang sahabat. Tapi apa daya, Puja tak mampu lagi membendung perasaannya pada Reyhan. Pada sosok lelaki yang menjadi sahabatnya dari kecil.
“tapi bagaimana dengan perasaan Tina, Rey ?” masih dengan air mata tulus yang mengalir membasahi pipinya. Masih dengan pelukan hangat seorang Reyhan. Yang baru pertama kali ini pula memeluk Puja dengan begitu tulus.
“aku akan bicara baik-baik padanya. Selama kita menyembunyikan rahasia, secepat itu pula rahasia itu akan terungkap Puja.” Reyhan melepas pelukannya, dan menatap Puja dengan serius. Menggenggam wajah mungil Puja dengan tangan lembutnya.
“dengarkan aku Puja, ikuti kata hati mu. Sekuat apapun hati mu menutupi, pada akhirnya akan ada air mata yang akan mewakili segala yang ada di hati mu. Aku menyayangi mu. Aku sangat menyayangi mu Puja, bukan lagi sekedar sahabat. Sudah cukup sampai di sini pengorbanan mu kepada Tina. Sekarang, aku yang akan berkorban untuk mu. Untuk cinta kita.”
Puja tersenyum terharu mendengar ucapan Reyhan, dan kali ini benar-benar serius untuk yang pertama dan terakhir kalinya Reyhan akan berkorban untuknya. Sekali lagi, pelukan itu sangat menentramkan hati Puja. Masih dengan air mata yang terus turun di pundak Reyhan.
***

Tina, Puja, Reyhan dan Rendy duduk melingkar di sebuah meja di halaman belakang. Masih dalam posisi hening, tak ada yang memulai obrolan, suasana terasa menyentuh, ketika ada salah satu yang mulai angkat bicara.
“apa kau mencintai Puja, Ren ?” tanya Tina pada Rendy.
“sudah kau tau Tina,, perasaan ku pada Puja melebihi apa yang kalian tahu. Iya kan Puja ?” Rendy berbalik bertanya pada Puja, yang sedari tadi masih bengong.
“i,, iya” simpel Puja menjawab, tanpa membalas pandangan Rendy terhadapnya. Puja dilanda dilema hebat dalam hidupnya, baru kali ini pula Puja berada pada posisi yang teramat sulit. Mengecewakan tali persahabatannya pada Tina, yang berarti ia harus rela melihat Tina kecewa padanya, karna ia akan hidup bahagia bersama Reyhan. Atau rela melihat Tina bahagia tersenyum di atas tangisannya, itu sama halnya ia akan kehilangan Reyhan, kehilangan cintanya. Haruskah ia mengeluarkan jurus egoisnya yang itu sama saja, seperti wanita yang tak punya perasaan. Tapi Puja juga seorang wanita, yang tentunya memiliki hati yang lebih peka daripada seorang lelaki. Haruskah ia mengecewakan semua orang yang disayanginya dan yang menyayanginya demi keegoisan cinta semata ? akankah Puja mampu melakukan hal yang terberat dalam hidupnya ? harus merelakan salah satunya sakit dan kecewa ? atau lebih memilih hatinya yang sakit terus menerus yang nantinya belum tentu mampu ia bertahan dalam situasi dan kondisi seperti ini ?
***

“Puja, kenapa kamu membohongi ku ? kenapa kamu tega memendam perasaan mu demi aku ?” Tina menyergah Puja yang sedang merapikan gaun pengantin nya.
“kamu ngomong apa sih Tina ?” Puja mengalihkan obrolan Tina.
“aku tahu semua Puja, aku sudah tau tentang kamu dan Reyhan, dan . . .” ucapan Tina terputus tak sanggup Puja melihat air mata itu di mata Tina. Segera saja Puja berbalik badan lalu memeluk Tina erat. Dua sosok wanita yang tak jauh dari kata lemah, lemah karna perasaan yang terlalu peka. Mereka berbagi air mata pada sahabatnya, berbagi kesedihan yang sedari dulu tak pernah ada yang mampu meluapkannya. Dan kini air mata itu tumpah, tumpah bersama pelukan hangat seorang sahabat. Sahabat yang selalu berbagi cerita, sahabat yang selalu berkorban untuk sahabat, kini keduanya baru merasakan betapa rasa sayang itu tumbuh karna adanya kebersamaan. Dan kini keduanya saling menumpahkan kebersamaan itu lagi dengan cara ini.
“maafkan aku Tina, maafkan aku telah menutupi perasaan ini dari mu. Aku nggak mau kamu kecewa padaku.” Lagi-lagi mereka menangis.
“sudahlah Puja, kamu sudah terlalu banyak berkorban untuk ku dan Reyhan. Dan kali ini, aku dan Reyhan yang akan berkorban untuk mu. Aku relakan dia untuk dan bersamamu Puja.” Tina dengan raut tulus mengucapkan sumpah itu pada Puja.
“tapi, bagaimana dengan Rendy ?” Puja tampak khawatir akan Rendy mengetahui hal ini.
“aku nggak pa-pa Puja. Pergilah bersama Reyhan. Aku memang sangat menyayangi mu, dan aku nggak ingin kamu pergi dari ku. Tapi begitu egoisnya aku jika aku paksakan kamu untuk bahagia dengan ku, bahagia dengan cinta yang terpaksa. Begitu jahatnya aku kalau aku memaksa mu untuk hidup bersama ku dengan cinta yang bukan untuk ku.” Rendy muncul di balik pintu kamar Puja, dan mendekat pada Puja dan Tina yang masih dengan air mata di sudut mata keduanya.

Sempat beberapa hari sebelumnya, Tina dan Rendy tak sengaja mendengar obrolan Puja dengan Reyhan di taman belakang. Yang akhirnya membuat mereka untuk merelakan kekasihnya berlalu untuk orang yang telah banyak berkorban, untuk Puja dengan Reyhan.
“yang dikatakan Rendy benar, Puja. Pergilah. Aku takkan mencegahmu untuk menjemput Reyhan, pujaan hati mu. Dan ini, ada sesuatu buat kamu.” Tina sambil melilitkan gelang putih pada pergelangan kiri Puja. Puja tampak heran.
“ini apa Tina ? bukankah ini pemberian . . . “ tak sempat Puja melanjutkan ucapannya.
“iya, ini pemberian Reyhan untuk ku. Dan dia sempat mengatakan padaku, kalau gelang ini pertanda dia sangat menyayangi seorang gadis. Tapi sayang, gelang ini ternyata bukan untuk ku Puja. Melainkan untuk mu. Karna gelang ini cocok dan pas dengan pergelangan tangan mu. Sudah aku coba di pergelangan tangan ku, tapi tidak bisa masuk. Mungkin Reyhan tak tahu ukuran tangan ku yang besar ini kali ya . . .” Tina mencoba menghibur dirinya yang Puja tahu Tina sedang sangat bersedih saat itu. Sudut mata itu nggak bisa membohongi Puja. Mereka pun kembali berpelukan mesra seorang sahabat, sambil diamati Rendy yang dengan titik air mata itu di sudut matanya yang sendu.
“terimakasih Tina, terimakasih atas semuanya. Aku tak tahu harus membalas kebaikan mu dengan cara apa.”
“sudahlah Puja, kamu cukup menikah dengan Reyhan dan hidup bahagia bersamanya. itu sudah cukup membalas ku. Reyhan pernah bilang pada mu kan, kalau dia yang akan berkorban untuk mu. Sekarang dia, aku dan Rendy yang akan berkorban untuk mu. Berkorban untuk cinta kita. Cinta seorang sahabat. Pergilah, turun ke bawah dan temui Reyhan. Temui dia dengan cinta mu. Aku dan Rendy, akan ikut bahagia dengan cinta kalian.” Tina melepas genggaman tangannya pada wajah Puja, dan melepas semua air mata itu dengan senyum kebahagiaan.
“pergilah Puja. Pergilah . . . !” sahut Rendy menyemangati Puja. Puja pun langsung turun menuruni anak tangga dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya, dengan gaun pengantin yang teramat indah jika dilukiskan nyata, dengan semua beban yang baru saja terlepas dari jiwanya. Semuanya terlihat indah dan terlihat menantang ketika kita harus memilih sahabat atau cinta. Puja telah melewati semua dengan cara dia, dengan sahabat-sahabat yang selalu bersamanya. dan Puja telah menunjukkan bahwa sahabat bisa jadi cinta dan bisa berakhir dengan bahagia asal kita mau terlebih dulu ikhlas berkorban demi apa yang nantinya belum tentu jadi milik kita. Sang pencipta tidaklah tidur, tidaklah buta untuk sedikit melihat hati kecil seorang hambanya. Namun dengan kita mau melihat ujiannya, kita sudah dikatakan berani untuk mencoba dalam resiko apapun yang nantinya kita hadapi. Berfikir lalu bertindak.

Belajar ikhlas sudah mengajarkan kita banyak tantangan. Dan cinta di ujung cerita ini, mengajarkan sebuah kisah cinta yang mau dengan ikhlas berkorban demi kebahagiaan orang yang disayanginya, sekalipun itu sangat menyakitkan. Semoga bermanfaat. Salam hangat untuk pembaca.

PROFIL PENULIS
Alif Fanny Wulandari adalah nama kepanjangan ku. biar mudah kenal, panggil aku Fanny. simple kan. aku pernah bersekolah di sebuah sekolah kejuruan negeri 01 di Brebes. sejak bersekolah di sana, aku sudah memulai hobi menulis ku. itu pun aku belajar dari seorang sahabat ku, namanya diyah. dia juga hobi menulis dari puisi hingga cerita pendek seperti ini. aku sudah belajar banyak darinya tentang menulis. terlebih ketika aku pernah menjuarai lomba cerpen islami, yang diselenggarakan di sekolah ku tempat aku menuntut ilmu itu. aku nggak pernah menyangka kalau hasil cerpen ku menjuarai juara 3. sangat diluar dugaan.
hingga kini aku masih senang menulis cerita2 pendek, semoga karya2 ku layak dibaca oleh semua kalangan, terutama remaja.

aliffannysmeansabez@yahoo.co.id itu alamat e-mail ku.
Fanny Shegadiez Violet itu nama profil facebook ku. dan salam kenal dari ku untuk para pembaca dan para penggemar cerpen.


About Iman Roems

Nama saya Sudirman Rumakeffing, namun dalam ngeblog saya sering menggunakan Nama Iman Roems. Saya asli dari SBT-Maluku, sekarang bekerja di salah satu Perguruan Tinggi di Ambon, dan sekarang menetap di Ambon - Maluku.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment


Top